
Di balik aroma herbal dan warna hijau kecokelatannya, zaatar menyimpan cerita panjang tentang budaya, keluarga, dan hubungan masyarakat Timur Tengah dengan tanah kelahiran mereka. Bukan sekadar campuran rempah di dapur, zaatar telah menjadi bagian dari tradisi kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi, terutama di Palestina.
Zaatar merupakan salah satu campuran rempah khas Timur Tengah yang telah digunakan selama berabad-abad. Rempah ini dikenal luas di berbagai wilayah seperti Palestina, Lebanon, Suriah, Yordania, Irak, Arab Saudi, Siprus, hingga Turki. Meski memiliki nama yang sama, setiap daerah memiliki racikan berbeda yang menyesuaikan bahan lokal dan cita rasa masyarakat setempat.
Lebih dari sekadar bumbu masakan, zaatar memiliki nilai budaya yang kuat. Bagi masyarakat Palestina, keberadaan zaatar tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga dengan kenangan, keluarga, dan tradisi yang terus dijaga.
Secara umum, zaatar terdiri dari campuran daun herbal kering, sumac, biji wijen sangrai, dan garam. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan cita rasa khas berupa aroma herbal, rasa sedikit asam, gurih, serta wangi kacang dari biji wijen. Namun, komposisinya dapat berbeda karena setiap keluarga dan wilayah memiliki resep khas masing-masing.
Dalam kehidupan masyarakat Palestina, zaatar menjadi salah satu bumbu yang sering hadir dalam hidangan sehari-hari. Salah satu cara paling populer menikmatinya adalah dengan mencampurkan zaatar bersama minyak zaitun, kemudian mengoleskannya pada roti tradisional sebelum dipanggang. Hidangan ini dikenal sebagai manakish, yaitu roti pipih dengan taburan zaatar yang menghasilkan aroma harum dan rasa khas.
Selain digunakan untuk roti, zaatar juga menjadi pelengkap berbagai hidangan lain seperti salad, saus cocolan, dan daging. Dalam sarapan tradisional Palestina, zaatar sering dinikmati bersama labneh, yaitu saus cocol berbahan dasar yogurt dengan tekstur lembut dan rasa sedikit asam.
Bagi banyak keluarga Palestina, racikan zaatar memiliki cerita tersendiri. Resep yang diwariskan dari generasi ke generasi bukan hanya mempertahankan cita rasa, tetapi juga membawa ingatan tentang rumah, keluarga, dan daerah asal seseorang.
Aroma zaatar yang muncul dari dapur rumah-rumah menjadi pengingat akan tradisi lama yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Saat ini, zaatar semakin dikenal di berbagai negara melalui restoran dan produk rempah internasional. Namun bagi masyarakat yang tumbuh bersama rempah ini, zaatar tetap memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar bumbu masakan.
Pada akhirnya, zaatar bukan hanya campuran rempah. Ia merupakan bagian dari identitas kuliner Palestina dan Timur Tengah sebuah warisan rasa yang menghubungkan manusia dengan makanan, tanah, sejarah, dan cerita keluarga yang terus hidup dalam setiap hidangan.
