
Yayasan Persahabatan dan Studi Persahabatan (YPSP) menghadiri Forum BAITUL MAQDIS: THE BLUEPRINT – Membaca Visi Pembebasan Baitul Maqdis yang diselenggarakan di Auditorium RRI Jakarta (02/8/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Fattah El-Awaisi, Ust. Muhammad Husein Gaza, Pizaro Gozali Idrus dan Arie Untung.
Forum diskusi ini diselenggarakan sebagai wadah untuk mengajak peserta mengkaji dan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan komprehensif mengenai kedudukan Baitul Maqdis, dinamika perkembangannya, serta berbagai perspektif mengenai masa depannya.
Dalam forum tersebut, Prof. Dr. Fattah El-Awaisi menekankan bahwa kesadaran terhadap Baitul Maqdis perlu dilandasi kemampuan membaca, memahami, dan memetakan persoalan secara mendalam.
Ia juga mengaitkan pentingnya kembali pada pesan wahyu pertama, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,” sebagai dorongan untuk menjadikan ilmu dan pembelajaran sebagai fondasi dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
Sementara itu dalam monolognya, Muhammad Husein menyampaikan bahwa setiap ayat Al-Qur’an memiliki fungsi dan peran masing-masing. “Al-Qur’an perlu dijadikan sebagai operating system kehidupan, yaitu pedoman yang membentuk pola berpikir, sikap, dan tindakan manusia.”
Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sistem nilai yang terukur, manusia dapat memahami pola-pola kehidupan yang berulang, mengambil pelajaran dari masa lalu, serta membangun kemampuan untuk membaca dan mempersiapkan masa depan. Hal ini menjadi upaya agar manusia berada dalam satu ruang pemahaman dan peta kehidupan yang sama secara bersama-sama.
Kegiatan semakin semarak dengan sesi podcast bersama para narasumber, yaitu Prof. Dr. Fattah El-Awaisi dan Pizaro Gozali Idrus, yang dipandu oleh Arie Untung serta penampilan dari Tanah Para Nabi dan Maqdis Talent yang menghadirkan pertunjukan kreatif sebagai bagian dari ekspresi seni dan kepedulian terhadap isu-isu Palestina.
Mari jadikan membaca sebagai ikhtiar untuk memperluas wawasan, menguatkan pemahaman, dan membangun kesadaran tentang Baitul Maqdis dan Palestina. Sebab, setiap langkah besar menuju perubahan berawal dari membaca, ilmu, dan pemahaman yang mendalam.


